"Gregoria?" nama yang langsung keluar dari An Se Young diimbuhi sebuah tanda tanya dibelakangnya, kepada wartawan ketika ditanya tentang lawan yang akan dihadapi selanjutnya, saat berada di depan venue Port de Chapelle Arena, tempat dimainkannya partai bulutangkis Olimpiade 2024,
"Saya suka mainnya. Dia pemain bagus," dia melanjutkan, menyanjung Gregoria Mariska Tunjung.
Ketika dilihat statistik yang ada, sepertinya sangat berpihak kepada An Se Young, Dari total tujuh pertemuan sebelum di Olimpiade 2024, belum satu kali pun Jorji (panggilan akrab Gregoria) bisa mengalahkan An Se Young.
An Se Young sebagai atlet bulu tangkis tunggal putri nomor satu dunia tak membuat Jorji kecil hati jelang semifinal Olimpiade 2024. Jorji yang diperempat final mengalahkan Ratchanok Intanon siap melaju ke Semi Final menghadapi Wakil Korea Selatan tersebut.
Bukan kendor, tapi jadi lebih semangat untuk menang
"[Masuk semifinal] ini adalah pencapaian yang bagus untuk saya, tapi kembali lagi saya tidak mau terlalu berpuas diri. Pertandingan besok akan lebih berat dan saya harus segera kembali bersiap," kata Gregoria.
Atlet yang berasal dari Wonogiri dan saat ini sudah menginjak umur 24 tahun itu tak memungkiri bahwa An Se Young merupakan lawan yang berat dalam perebutan medali Olimpiade 2024, namun hal tersebut bukan berarti mustahil dan tak mengurangi semangatnya untuk berjuang. Tekad untuk laga semifinal yang diusung Gregoria adalah berjuang maksimal.
"An Se Young pastinya adalah lawan yang susah. Saya mau berusaha sebaik mungkin menampilkan yang terbaik yang saya punya. Saya tidak akan memikirkan hasilnya, tapi saya ingin berjuang sekuat tenaga," Ungkapnya.
"Target aku melakukan yang terbaik, berusaha semaksimal mungkin. Besok enggak mudah, apalagi lawan nomor satu dunia, aku enggak mau geter, aku mau berusaha terbaik semampu aku," ucapnya melanjutkan.
Harapan yang terasa dipundak Gregoria.
Gregoria menjadi satu-satunya atlet yang bisa menjaga kans Indonesia meraih medali Olimpiade 2024 di cabor bulutangkis. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa 'selalu ada momen yang pertama untuk segalanya', yang terjadi di atas lapangan mungkin saja bisa berbeda dengan apa yang telah diprediksi di atas kertas. Dan duel kali ini akan menjadi momen yang dramatis untuk Gregoria bisa pecah telur.
Pasalnya, terakhir kali tunggal putri Indonesia Tunggal putri Indonesia yang bisa menembus final Olimpiade adalah Mia Audina tepatnya pada Olimpiade 1996 Atlanta atau 28 tahun yang lalu. Hal ini membuat Gregoria Berkomitmen untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya saat menghadapi An Se Young nantinya.
Upaya pengembalian kejayaan Indonesia di Bulu Tangkis Internasional.
"An Se-young pastinya merupakan lawan yang susah. Saya mau berusaha sebaik mungkin menampilkan yang terbaik yang saya punya, Saya tidak akan memikirkan hasilnya tapi saya ingin berjuang sekuat tenaga," Ungkap Gregoria.
Beruntungnya, lawan yang akan dihadapi oleh Jorji, tidak berada di kondisi primanya, karena catatan cedera yang dialaminya.
"Saya harap (kemenangan) ini akan menjadi stimulus yang baik," ujarnya.
Mari kita dukung Perwakilan Indonesia mendapatkan medali di Olimpiade Paris 2024 ini, dan bisa membawa kebanggaan untuk Indonesia khususnya Cabor Bulu Tangkis yang pernah menjadi kejayaan Indonesia di masa lampau.
Komentar
Posting Komentar