Tradisi khataman dalam rangka haul KH Raden Abdul Fattah dusun Sigedong Wonosobo

 ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan guna untuk membahas tentang sebuah tradisi khataman berjamaah yang dilaksanakan di dusun Sigedong, desa Tegalgot Kepil Wonosobo. Ini adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan secara terus-menerus, rutin setiap tahun sekali. Hal yang tentunya sangat bagus dimasa modern ini, dimana kebanyakan orang lebih banyak tersibuk dengan sebuah kenikmatan yang ada di dunia, namun dibelahan dunia yang lain masih banyak yang memikirkan tentang pentingnya akhirat. Proses khataman yang dilakukan di dusun Sigedong tersebut juga mempunyai sebuah makna yang luar biasa, diantaranya silaturahmi besar-besaran sekaligus untuk mengenang Almaghfurlah Mbah KH. Raden Abdul Fattah Sigedong. Dengan sebuah landasan dari Hadis Nabi SAW yang menyatakan bahwa sebuah perkumpulan yang dilakukan dengan membaca al-Quran, maka  mereka akan dikelilingi ribuan malaikat dan akan mendapatkan sebuah rahmat.

Fokus pembahsan dari penelitian ini adalah yang terkait dengan apa makna dari 125 khataman tersebut, dan bagaimana praktek yang dilakukan dalam prosesi khataman tersebut. Dan juga bagaimana tanggapan dari para santri dan juga masyarakat sekitar tentang tradisi khataman tersebut. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode diskriptif kualitatif, adapun untuk Teknik pengumpulan datanya menggunakan cara observasi partisipan, wawancara dan juga dokumentasi.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis menunjukan bahwa masyarakat di dusun Sigedong, desa Tegalgot Kepil Wonosobo percaya bahwa sebagai bentuk penghormatan terhadap warga yang minta secara langsung agar rumah mereka  digunakan untuk membaca al-Quran, karena mereka meyakini bahwa ketika adanya sebuah perkumpulan orang-orang yang membaca al-Quran, maka disitu malaikat akan turun dana akan mendapatkan sebuah rahmat. Dan tujuan diadakannya khataman adalah untuk mendoakan para mendiang yang sudah terlebih dahulu mendahului kita khususnya mbah KH. Raden Abdul Fattah.

 PENDAHULUAN 

    Nahdlatul Ulama yang sering kita sebut sebagai NU merupakan sebuah organisasi keagmaan yang besar di negara Indonesia. Salah satu hal yang menarik dari Lembaga NU adalah dengan sebuah doktrin ideologi aswajanya. Awal mula berdirinya NU pada tahun 1926, NU sebagai organisasi keagamaan yang besar  menegaskan bahwa dirinya sebagai penganut, pengemban, juga pengembang islam ala Aswaja. Sehingga mau tidak mau, NU berusaha sekuat tenaga untuk selalu memposisikan dirinya sebagai pengamal setia dan selalu mengajak kaum muslimin, terutama warga NU sendiri untuk menggolongkan dirinya sebagai Aswaja.( Ahmad Ramli: 2017, hal: 1)

Dalam bidang fiqih, warga Nhadlatul Ulama selalu berpegang teguh terhadap al-Qur’an dan juga Hadits Nabi SAW. Tetap yang menjadi rujukan utama untuk menentukan sebuah masalah dalam kehidupan, kaum muslimin selalu merujuk pada al-Qur’an. Kajian terhadap al-Qur’an selalu menghasilkan sebuah pemahaman yang beragam sesuai kemampuan masing-masing.(Samsul Arifin: 2018, hal 1) Dari pemahaman tersebut yang menghasilkan bebrapa perilaku yang beragam pula. Berdasarkan sejarah, perilaku atau sebuah praktek yang memfungsikan al-Qur’an dalam kehidupannya akan merasakan sebuah kenyamanan dalam hatinya.

    Membaca al-Quran sebagai kitab agama bagi umat Islam, al-Quran tentu akan senantiasa dijadikan acuan dan kajian utama bagi umatnya untuk dipahami demi mengaplikasikan pesan-pesan Tuhan dalam kehidupan. Karena itu pula, tak terhindari dari perjalanan panjangnya, ia telah banyak mengalami interaksi dengan berbagai kalangan pembacanya.

      Fenomena interaksi sosial terhadap al-Qur'an itu masih sangat dinamis Sebagai bentuk resepsi apresiasi dan respon umat Islam terhadap al-Quran memang sangat dipengaruhi oleh cara berpikir dan konteks yang mengitari kehidupan mereka. Berbagai bentuk dan model praktik resepsi dan respon masyarakat dalam memperlakukan dan berinteraksi dengan al-Quran itulah yang disebut dengan living Quran (al-Quran yang hidup) di tengah masyarakat. (Teti Fatimah: 2017, hal 2)

    Living Qur'an dalam penelitian agama merupakan suatu gejala sosial yang disemangati oleh al-Qur'an. Living Qur'an dimaksudkan sebagai suatu studi di mana individu atau sekelompok orang memahami al-Qur'an (penafsiran). Living Qur'an adalah tentang bagaimana al-Qur'an itu disikapi dan direspon masyarakat muslim. Oleh karena itu maksud yang dikandung bisa sama, tetapi ekspresi dan ekspektasi terhadap al-Qur'an antara kelompok satu dengan kelompok yang lain, begitu juga antar golongan, antar etnis, dan antar budaya. Salah satu fenomena sosial living Qur'an yang terjadi dalam masyarakat Islam yang menjadi pembicaraan dalam penelitian ini terdapat di dusun Sigedong, desa Tegalgot, Kepil, Wonosobo, Jateng. 

      Living Qur'an yang terjadi di daerah ini adalah proses khataman al-Qur'an yang melibatkan banyak sekali warga atau santri, karena banyaknya para peserta khotmil qur'an tersebut, maka khatamannya pun menjadi sangat banyak sampai 125 khataman dalam sehari yang pada awalnya oleh panitia hanya berharap sampai 114 khataman saja, hal itu karena bertepatan dengan haul dari KH Raden Abdul Fattah ya ke 114. Tapi Allah SWT memberikan lebih banyak agar banyak malaikat yang menghadiri dalam acara do'a khataman tersebut. Dan setelah proses khataman tersebut, juga masih banyak serangkaian acara yang menarik, misalnya sholawatan bersama, tausiah dan lain-lain.

      Dan juga,  karena sangat ramainya pada hari itu, para warga disini sangat antusias menyambutnya, mereka semua membuka rumah untuk siapapun untuk berkunjung (bertamu) walaupun sejatinya mereka tidak saling kenal-mengenal, tapi para warga disini hanya berharap semoga mendapatkan sebuah keberkahan, karena menjamu para tamu istimewa yakni para penghafal al-Qur'an. Dengan banyaknya khataman tersebut, dikhususkan untuk KH Raden Abdul Fattah untuk mengenang perjuangan beliau dalam mensyiarkan agama islam di tanah Wonosobo khususnya Dusun Sigedong (haul). Dari jumlah khataman yang banyak tersebut pasti ada penghayataan dan pemaknaan yang berbeda dari para peserta maupun para warga, dengan latar belakang masalah tersebut, akhirnya penulis pun terinspirasi untuk meneliti fenomena tersebut, dengan judul "125 khataman dalam rangka haul KH Raden Abdul Fattah di dusun Sigedong oleh para santri dari berbagai Pondok Pesantren di Wonosobo dan Yogyakarta"

PENJELASAN

    Al-Qur'an merupakan mukjizat terbesar dari Nabi Muhammad SAW, kitab suci yang terdiri dari 30 juz itu adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril dan yang membacanya akan medapat pahala. Muhammad Ali Ash-Shabuni mendefinisikan al-Qur'an sebagai berikut "Al-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantara Malaikat Jibril dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian diaampaikan kepada kita secara mutawwatir, serta membaca dan mengamalkanya merupakan ibadah, yang dimulai surah Al-Fatihah dan diakhiri surah An-Nas"
   Ayat-ayatnya merupakkan jaminan hidayah bagi manusia dalam segala urusan dan setiap keadaan serta jaminan bagi mereka untuk memperoleh cita-cita tertingi dan kebahagiaan terbesar di dunia dan akhirat. Barang siapa mengamalkannya, mendapatkan pahala, dan barang siapa menyeru orang lain kepadanya, mendapatkan petunjukkejalan yang lurus. Rasulullah saw bersabda " Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (al-Qur'an) dan Allah merendahkan kaum yang lainnya (yang tidak mau membaca, mempelajari dan mengamalkan al-Qur'an. (HR. Muslim). (Samsul Arifin: 2018, hal 1)
    Membaca al-Quran sebagai kitab agama bagi umat Islam, al-Quran tentu akan senantiasa dijadikan acuan dan kajian utama bagi umatnya untuk dipahami demi mengaplikasikan pesan-pesan Tuhan dalam kehidupan. Karena itu pula, tak terhindari dari perjalanan panjangnya, ia telah banyak mengalami interaksi dengan berbagai kalangan pembacanya.(M. Quraisy Shihab: 2000, hal 3) Biasanya ketika seorang muslim selalu membiasakan hidup dengan al-Qur’an, maka hati akan menjadi tenang dan dalam menjalankan kehidupan bisa lebih rileks dan semangat. Karena dengan kita membaca al-Qur’an secara tidak langsung kita juga sedang mengingat tuhan, dan harus di ingat ketika kita bisa menghadirkan tuhan dihati kita, maka senantiasa hati kita akan tentram. Seperti yang dijelaskan didalam surat Ar-Ra’du ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
    Sama halnya dengan para santri yang selalu dekat dengan al-Qur’an,  karena kehidupanya selalu disibukkan dengan mengaji dan mengaji, akan tetapi ketika mereka mencoba membolos mengaji, maka hati mereka tidak akan tenang dan akan selalu was-was. Karena sadar ketika tidak mengaji, maka itu adalah ajakan syaitan dan saat itu kita sedang jauh dari Tuhan. Saat ini membaca al-Qur’an bukan hanya untuk menambah pahala dan amal, akan ada banyak hal yang dilakukan dengan membaca ayat suci tersebut.  Bahkan ada pula model orang yang membaca al-Qur’an bertujuan agar mendapatkan kekuatan magis, ataupun terapi pengobatan dan lai-lain. 
   Seorang santri yang memiliki al-Quran dihatinya, mereka akan mendapatkan sebuah kenyamanan dan ketenangan dalam beribadah kepada tuhan-Nya. Cara menjaga hapalan dari para santri itu berbeda-beda, banyak hal bias dilakukan untuk selalu  Bersama al-Qur’an. Cara yang sering penulis jumpai yaitu dengan mengadakan sebuah khataman Bersama (majelis sima’an al-Qur’an). Selain untuk menjaga hafalan yang ada kadang ada jjuga yang membaca al-Qur’an untuk kepentingan tertentu, dengan mengharap berkah bacaan al-Qur’an dan kahatamanya dikirim kepada para mendiang yang telah mendahuluinya. Karena masyarakat disana percaya bahwa Sesuatu yang terbaik dikirim kepada orang yang telah tiada adalah sebuah kiriman doa dari orang-orang yang masih di dunia terlebih lewat bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an.
    Proses Living Quran yang dilaksanakan ini berada di dusun Sigedong yang berada di desa Tegalgot kecamatan Kepil Kabupaten Wonosobo jawa Tengah. Dusun ini awal mulannya dusun ini bernama Dusun Sigedong Baturono, dulunya adalah sebuah bukit belantara yang kono katanya sebuah kerajaan jin, setan, lelembut dan lainnya. Barangsiapa yang berani menjamah hutan tersebut, maka akan hilang tanpa jejak. Sehingga pada saat itu tidak ada seorang pun yang berani memasuki hutan terlarang tersebut. Akan tetapi, atas kuasa Allah SWT ketika KH. Raden Abdul Fattah  dan juga berkah karomah dan doa-doanya, beliau bisa mengusir makhluk halus yang ada disana, dan akhirnya daerah tersebut digunakan oleh beliau dan istri-istrinya sebagai tempat tinggal dan selanjutnya ditempati oleh para keturunannya hingga saat ini.
Riwayat hidup KH. Raden Abdul Fattah, beliau memiliki nama kecil R. Syamsul Ma’arip beliau dilahirkan di kraton Ngayogyokarto Hadiningrat pada tahun 1812 H masehi. Beliau diasuh serta dididik dan dibesarkan di dalam kraton, beliau diajarkan ilmu agama oleh ayahandanya KH. R. Markhamah sejak kanak-kanak hingga dewasa. Beliau memiliki darah/silsilah yang tinggi diantarnay memiliki silsilah dari R. Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya V dari Majapahit, dan juga dari Sinuwun Prabu Mangkurat Jawi ( Mangkurat Mas) dari Kartasuro. Beliau memiliki sinar mata yang tajam dan juga cerdas, semua ilmu yang dipelajari olehnya bisa langsung dikuasainya. Kemudian setelah dewasa beliau malanjutkan studinya ke Makkatul Mukarramah sekaligus menunaikan Rukun Islam yang terakhir yakni Haji bagi yang mampu.  
Di dusun Sigedong desa Tegalgot Kepil Wonosobo sxetiap tahun selalu membuat acara haul untuk mengenang jasa dari mbah KH. Raden Abdul Fattah yang telah menyebarkan agama  islam di Wonsosobo. Pada tahun ini tema yang digunakan adalah 125 khataman dalam rangka haul KH Raden Abdul Fattah di dusun sigedong oleh para santri dari berbagai pondok pesantren di Wonosobo dan Yogyakarta.
    Acara yang diselenggarakan oleh panitia akan selalu menarik perhatian dari beberapa santri yang menjadi langganan untuk berangkat ke tempat tersebut, terlebih silaturahmi yang sangat kuat antara para santri dan juga warga dusun Sigedong tersebut yang membuat para santri sangat antusias menyambut acara tersebut. Makna yang terkandung dari angka 125 dari tema tersebut adalah menjadikan kenangan terhadap mbah KH. Raden Abdul Fattah tersebut, karena pada hari itu tepat 125 tahun simbah meninggalkan kita. Menurut salah satu warga dusun tersebut dan juga termasuk panitia acara mas Abbas, ketika diwawancarai mengatakan bahwa sebenarnya yang panitiia inginkan itu hanya 114 khataman saja, akan tetapi pada hari itu para santri dan warga sangat antusias dan terjadi sebuah lonjakan yang sangat drastis. Menurut beliau "sebenarnya panitia menginginkan hanya 114 khataman saja, tetapi ternyata peserta membludak, dan menurut kita juga lebih banyak itu lebih baik mas" ujarnya saat diwawancarai. 
    Salah satu hal yang membuat masayarakat semakin senang dan yakin ketika menerima tamu Allah yakni para hufadz adalah keberkahan yang diberikan, dan Malaikat akan selalu menaungi mereka, juga ketika do’a Khotmil Qur’an Seribu Malaikat akan turun ke bumi membawa rahmat yang diturunkan dari ‘Arsy. Seperti hadis Nabi SAW yang artinya:  "Dari Abu Hurairah RA, dia berkata "Rasulullah SAW bersabda : Dan tidaklah satu kaum berkumpul dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya diantara mereka, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, kasih sayang akan menyelimuti mereka, malaikat akan menaungi mereka, dan Alloh akan menyebutkan mereka di tengah makhluq yang ada di sisi-Nya". (HR. Muslim) (Fazat Laila, 2017, hal. 3)  
    Dari 125 khataman yang dilakukan terdiri dari para masyayikh, kyai, santri dan juga para warga disitu, ada banyak santri yang datang dari daerah wonosobo, khususnya kalibeber seperti pondok pesantren al-'Asy'ariyyah Kalibeber, pondok pesantren Baitul Abidin Darussalam Ngebrak, dan juga ada pondok pesantren ITB Kalibeber. Hubungan yang sangat harmonis antara Kalibeber dan juga Sigedong yang membuatnya selalu mengirim para santrinya untuk mengikuti haul tersebut, dan juga karena pimpinan pondok pesantren al-'Asy'ariyyah yakni mbah Mun itu adalah masih termasuk cucu daripada KH. Raden Abdul Fattah sigedong, dan mbah Mun juga menganggap bahwa al-Qur'an di tanah wonosobo itu dulunya berawal dari tanah Sigedong, maka beliau selalu mengirim para santrinya untuk ikut simakan di Sigedong. Beliau sering dawuh ketika masih sehat dulu saat habis mendoakan khataman al-Qur'an "saya itu dulu belajar al-qur'an disini, belajar sama ibu saya, maka kalau ada acara sepweti ini pasti saya akan selalu mengirim santri kesini, biar santri pada tahu kalau inilah tempat awal al-qur'an di tanah Wonosobo"
   Sedangkan santri yang dari Yogyakarta itu lebih didominasi oleh para santri dari pondok pesantren Sunan Pandanaran. Karena hubungan antara seorang guru dan murid, maka pondok pandanaran selalu mengirim santrinya ke sigedong untuk ikut simakan al-qur'an dan meramaikan acara. Dulunya mbah mufid adalah santri dari mbah Mun ( kyai pondok al-'Asy'ariyyah kalibeber) dan juga warga sini banyak yang lulusan dari pondok pesantren Sunan Pandanaran. Maka bagi mereka ini adalah sebuah momen yang sangat special dan selalu ditunggu-tunggu bisa bertemu kembali dengan para masyayikh pondok pesantren Sunan pandanaran Yogyakarta.
Pemaknaan khataman al-Quran oleh masyarakat sekitar dusun Sigedong adalah untuk menangkal bala karena pada dulunya tempat tersebut adalah sebuah hutan belantara yang kono katanya adalah tempat bermukimnya para jin. Dan makna yang lain dari khataman tersebut yang pasti adalah mencari sebuah keberkahan yanag ada pada prosesi khataman tersebut. Karena dalam doa khotmil Quran tersebut mengandung sebuah hal-hal yang positif.(Agus Wedi, 2019, hal 72)
Untuk model khataman yang dipakai pada saat acara tersebut itu bervariasi, ada yang langsung gelondong 30 juz, ada yang 30 juz dibagi 2 orang, ada juga yang 30 juz untuk 10 orang dan ada lagi beberapa model lain yang digunakan dalam acara tersebut. Acara tersebut biasanya dimulai pada hari tersebut, terkecuali yang nggelondong 30 juz biasanya dimulai pada sore hari H-1 agar bisa selesai pada saat acara do’a khotmil al-Qur’an. Biasanya acara tersebut dilaksanakan pada 21 rajab, dan pada hari itu bertepatan pada tanggal 16 maret 2020. 
    Respon yang diberikan  oleh para santri khususnya ketika akan mengikuti pengajian khaul yang dilaksanakan di dusun Sigedong tersebut selalu baik, ada beberapa dari mereka yang selalu menunggu waktu tersebut. Salah satu peserta khotmil 30 juz yang bisa kita wawancarai, yakni Ustadz Ikhlas Al-Hafid, ujarnya” Acara yang sungguh sangat bermakna dan selalu dinanti-nantikan oleh saya, karena menurut saya acara tersebut yang akan selalu mengingatkan kita akan perjuangan dari mbah KH. Raden Abdul Fattah, beliau adalah penyebar agama islam dan juga yang mengajarkan al-Qur’an pertama kali di tanah Wonosobo, dan menurut saya khaul ini adalah untuk mengenang kematian dari seorang ulama besar, karena tidak semua orang bisa diperingati hari kematiannya, jadi ini adalah acara yang sangat bagus agar kita selalu bisa mendoakan guru kita yang sudah mendahului kita.”
     Sedangkan respon dari penduduk dusun Sigedong yang mestinya terkena imbas keramaianya dari acar tersebut, mas Musaffa mengatakan” menurut saya acara seperti ini bagus mas, untuk mengenang perjuangan beliau, dan saya juga tidak keberatan ketika banyak tamu yang singgah dipemukiman kami, kami malah merasa bangga bisa menjadi tempat sinngah para tamu Allah yang mulia ini (huffadz) dan juga kami mewakili dusun Sigedong mohon maaf jika mungkin banyak kesalahan dan kurangnya memberikan rasa nyaman kepada para tamu.”ujarnya ketika diwawancarai. Jadi menurutnya acara seperti ini sangat positif dan semoga tetap berlanjut walaupun hanya setahun sekali, karena bermanfaat untuk semuanya dan yang diharapkan semoga bisa memberikan sebuah keberkahan kepada para masyarakat sekitar dan para santri.
PENUTUP
SIMPULAN 
    Simakan khataman merupakan sebuah metode untuk melancarkan hafalan al-Qur’an.yang paling menarik. Tujuan dari sima’an tersebut yakni untuk menjaga kembali hafalan al-Qur’anya agar selalu teringat. Sellain itu juga ada kepentingan tertentu yang bisa didapatkan, yaitu dengan cara mengharap akan berkahnya dengan mengrimkan bacaan sima’an khataman al-Qur’an untuk orang yang sudah meninggal dunia. Karena sesuatu yang terbaik yang bisa diberikan oleh kita yang masih hidup terhadap orang yang meninggal dunia adalah sebuah doa khususnya lewat bacaan al-Qur’an.  
    Hasil yang didapat dari acara tersebut sangatlah banyak, untuk kalangan para santri acara tersebut menjadi ajang untuk kembali mengulang hafalan agar semakin lancar dan lanyah. Dan bagi masyarakat sekitar juga mendapatkan keberkahan dari para tamu Allah SWT yakni para penghafal al-Qur’an dan juga mendapatkan sebuah pelajaran hidup agar menjadi lebih baik lagi. Dan ini juga sebagai ajang silaturahmi antar para alumni dan juga para masyayikh yang hadir di majelis tersebut. 


DAFTAR PUSTAKA

    Arifin Samsul, Menggali Makna Khataman Al-Quran di Pondok Pesantren Giri Kesumo Demak (Studi Living Quran), Skripsi, (Salatiga: Institut Agama Islam Negri (IAIN) Salatiga, 2018)
http://e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5016/
   Fatimah Teti, Simaan Khataman Al-Quran untuk Keluarga Mendiang (Studi Living Quran di Desa Tinggarjaya, Sidareja, Cilacap, Jawa Tengah), Skripsi, (Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2017)
http://digilib.uin-suka.ac.id/27102/13530074_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR -PUSTAKA.pdf
    Laila Fazat, Praktek Khataman Al-Quran Berjamaah di Desa Suwaduk Wedarijaksa Pati (Kajian Living Hadis), Skripsi, (Semarang: Universitas Islam Negeri Walisongo, 2017)
http://eprints.walisongo.ac.id/7922/
    Ramli Ahmad, Nilai Religius Tradisi Khataman al-Quran Malam Jumaat Manis (Studi Kasus di Musholla Mathlaun Nur Grujugan, Gapura, Sumenep, Madura dalam menjaga Nilai-nilai Aswaja ala NU), Skripsi, (Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga,  2017)
http://digilib.uin-suka.ac.id/28738/1/13510082_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf
Shihab Quraisy, Wawasan Al-Quran Tafsir Maudhu’I atas berbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 2000)
Wedi Agus, Khataman Quran Pra-Acara Alako Gebhai Desa grujugan, Sumenep, Media untuk Menangkal Bala dan Memperoleh Berkah, Jurnal Hermeunetik, Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Vol. 13 (IAIN Kudus: 2019)
http://journal.iainkudus.ac.id/index.php/Hermeunetik/article/view/6354

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

World of Warcraft, remains a popular game despite the onslaught of newcomers.